Sunday, October 20, 2019

Merdeka Itu ?


Betapa sering kita mendengar kata merdeka dari berbagai penjuru Indonesia. Seruan merdeka merupakan sebuah panggilan, seruan untuk memulai perjuangan dalam mengakhiri sebuah keadaan buruk bangsa untuk menyongsong matahari terbit di pagi hari cerah.

Apakah ketika kita mengucapkan dan mendengar seruan merdeka itu kita ingat bahwa merdeka bermakna ; berilah sanksi kepada para lintah darat yang tamak itu ! Sitalah kekayaan para tukang monopoli yang mendapatkan kekayaannya dengan cara mencuri ! Hapus dominasi asing ! Sediakan makanan untuk rakyat yang banyak ! Bukalah pintu pendidikan lebar - lebar ! Hancurkan cecunguk yang coba membodohkan dan memecah belah bangsa. Berikan kebebasan, biarkan demokrasi yang sebenar - benarnya bersinar. Sehingga kita sadar bahwa merdeka bukan hanya sekedar euforia semata

Catatan Dibalik Toga 1

Pada akhirnya ujung dari akhir petualangan keilmuan ini mesti mengantarkan pada amor intellectuallis dei, cinta akan tuhan & kemanusiaan, karena orang yang paling takut disisi tuhannya adalah orang yang berilmu, karena inti dari ilmu adalah kemanusiaan. Jadi jangan percaya kalau jadi sarjana itu tujuan utamanya, Tak ada yang istimewa dari acara fofotoan bawa balon, ada hal yang lebih layak kau rindukan dari sekedar itu. Pesan dari Victor serge, Bolshevik mengingatkan mu, Setelah ini kau ingin jadi apa ? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya dan lupa terhadap kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekeliling mu dan periksalah nuranimu?. Pesan ini jadi tamparan keras Karena nampaknya setelah ini idealisme mu akan pa betot betot dengan isi perut, maka sebelum itu selesaikan dulu perutmu, perut keluarga mu, perut orang orang di sekitar mu baru perut orang orang banyak.

Ingsun titipna tajug lan fakir miskin, Yen kaya den luhur, Den suka wenan lan suka memberih gelis lipur (Aku titipkan kepadamu tajug, masjid, madrasah dan fakir miskin. Jika kelak kamu kaya maka sebarkanlah harta kekayaan mu jangan kau nikmati sendiri. Namun jika kelak kamu bersedih sembunyikanlah kesedihan itu supaya cepat menghilang) - Sunan Gunung Djati

Bandung, 22 September 2019

Duhai Kasih


Duhai kasih
Cobalah lihat dunia tak se indah ideal plato
Bisa jadi separah zaman machiavelli
Ketika ketakutan di halalkan
Dan cinta adalah dalil yang di haramkan

Duhai kasih
Sejarah telah menjadi saksi
Bahwa cinta adalah revolusi keangkuhan zaman
Lantas bagaimana aku bisa memperjuangkan revolusi tanpa hadirmu di sampingku
Bagaimana tidak
Kau tau
Kalau cintamu adalah semangat perjuangan ku

Mereka Rapuh


Mereka yang mengaku gagah tapi rapuh adalah mereka yang mengepalkan tangan kirinya tinggi - tinggi, membabi buta mengkritik, namun tangan kanannya menengadah sambil tersenyum, bahagia sekali mereka mendapat santunan. Pagi demonstrasi, malam makan - makan di Istana, rela menggadaikan idealisme.

Kail Pancingku Patah






Matahari kelak kan tenggelam, kelak kan datang dingin mencekam, kabut tipis pun turun perlahan menutupi panjang jalan di lembah wirasuta, hari pun menjadi malam, wajah - wajah muram mulai berbicara tak seperti senyuman mu kala kita bercerita di puncak srimanganti, padahal kita tak pernah kehilangan apa - apa juga tak pernah menanamkan apa - apa. Namun rona kebencian menjalar terlalu cepat mengalah kan senja yang jatuh di Bandung selatan, tak ku temui lagi tawa saat kita berada di artapela atau canda saat secangkir kopi menjadi kawan di sudut batu kuda dan puncak maja, kail pancingku pun patah dan tak lagi membawa cahaya yang datang dari arah beuti canar untuk dibagi bersama bintang yang menyampaikan harapan kepada dunia yang tertutup kepongkahan diri yang mulai lupa akan kehidupan setelah kita hidup. Membawa angin kesepian beserta beban yang mendesak untuk di tumpahkan dari lembah danau meninjau, namun air mata yang keluar dari curug Siliwangi menolak untuk dijatuhkan, seraya berbisik kepadaku mentari itu kan tetap menyala di dasar hatimu
 
biz.