Matahari kelak kan tenggelam, kelak kan datang dingin mencekam, kabut tipis pun turun perlahan menutupi panjang jalan di lembah wirasuta, hari pun menjadi malam, wajah - wajah muram mulai berbicara tak seperti senyuman mu kala kita bercerita di puncak srimanganti, padahal kita tak pernah kehilangan apa - apa juga tak pernah menanamkan apa - apa. Namun rona kebencian menjalar terlalu cepat mengalah kan senja yang jatuh di Bandung selatan, tak ku temui lagi tawa saat kita berada di artapela atau canda saat secangkir kopi menjadi kawan di sudut batu kuda dan puncak maja, kail pancingku pun patah dan tak lagi membawa cahaya yang datang dari arah beuti canar untuk dibagi bersama bintang yang menyampaikan harapan kepada dunia yang tertutup kepongkahan diri yang mulai lupa akan kehidupan setelah kita hidup. Membawa angin kesepian beserta beban yang mendesak untuk di tumpahkan dari lembah danau meninjau, namun air mata yang keluar dari curug Siliwangi menolak untuk dijatuhkan, seraya berbisik kepadaku mentari itu kan tetap menyala di dasar hatimu
Sunday, October 20, 2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment